Parigi Moutong – Keikutsertaan Kecamatan Mepanga dalam ajang Festival Teluk Tomini 2026 memang berhasil mencuri perhatian publik. Namun di balik antusiasme tersebut, muncul kekecewaan dari masyarakat terkait hasil penilaian lomba yang dinilai tidak objektif.
Masyarakat Mepanga menilai dewan juri kurang profesional dalam melakukan penilaian, khususnya terhadap konsep “gunungan buah” yang mereka tampilkan. Sesuai dengan ketentuan lomba, komposisi yang digunakan adalah 70 persen buah durian dan 30 persen buah lainnya. Namun, hasil penilaian dinilai tidak mencerminkan konsep yang telah diikuti peserta.
Salah satu perwakilan masyarakat menyampaikan bahwa pihaknya telah mengikuti seluruh aturan yang ditetapkan panitia. Bahkan sebelum kegiatan berlangsung, telah dilakukan rapat bersama pemerintah desa dan kecamatan se-Kabupaten Parigi Moutong untuk menyepakati konsep lomba.
“Admin… fans terbanyak dari perjalanan menuju Mepanga sampai di Parigi bisa dilihat di Facebook. Kami hanya mengikuti konsep yang dilombakan, yaitu 70 persen durian dan 30 persen buah lainnya. Replika durian itu hasil kreativitas peserta, dikerjakan selama empat hari,” ungkapnya dengan nada kecewa.
Dalam festival tersebut, Kecamatan Mepanga menampilkan “segunung buah” lengkap dengan replika durian raksasa yang diperkirakan memiliki berat hingga 300 kilogram. Karya tersebut menjadi daya tarik utama dan ramai dikunjungi masyarakat. Banyak pengunjung mengabadikan momen di depan replika durian sebagai bentuk apresiasi terhadap kreativitas warga.
Meski demikian, masyarakat mengaku tidak memahami dasar penilaian yang digunakan oleh dewan juri. Mereka berharap ke depan proses penilaian dapat dilakukan secara lebih transparan, adil, dan sesuai dengan kriteria yang telah disepakati bersama.
Kekecewaan ini menjadi catatan penting bagi penyelenggara agar evaluasi dilakukan demi menjaga kepercayaan peserta dan masyarakat dalam event-event daerah selanjutnya.
